古务拉雅县——持续近两个月的烟霾笼罩古务拉雅县,导致当地部分学校不得不将课堂教学转为线上教学。
面对无法正常进行面对面授课的情况,教师们也不断寻找新的教学方式。其中,双溪安峇旺(老港国立第一高中(SMA Negeri 1 Sungai Ambawang)数学教师埃迪·苏肯德里(Edi Sukendri)就利用社交媒体TikTok的直播功能,将社交平台变成了“线上课堂”。
埃迪说,并非只是上传教学视频,而是通过TikTok直播直接为学生讲解数学课程,同时与学生进行实时互动。
埃迪表示,之所以选择TikTok,是因为这一平台在学生群体中已经相当普及,使用起来也比较简单。通过直播功能,教学可以实时进行,学生不仅能够听取讲解,也可以在直播过程中直接提问。
不过,利用社交媒体进行教学同样面临挑战。由于直播内容面向公众开放,除了学生之外,其他网民也可以进入直播间,因此直播过程中偶尔会出现负面评论。
尽管如此,这并没有削弱埃迪市长的教学热情。
对他而言,最重要的是即使在烟霾影响下、学生无法到校上课,教学内容依然能够顺利传达给学生。
埃迪的创新做法随后也获得校内其他教师的关注,一些教师开始尝试利用社交媒体辅助教学。
在烟霾导致传统课堂受到影响之际,科技成为教师维持教学活动的重要工具。原本需要在教室完成的课程,如今通过手机和网络延伸到线上,也让学习方式更加贴近学生日常的数字生活。
KUBU RAYA – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Kubu Raya selama hampir dua bulan memaksa sejumlah sekolah mengalihkan pembelajaran ke sistem daring. Namun, kondisi tersebut tak membuat guru berhenti berinovasi.
Di tengah keterbatasan pembelajaran jarak jauh, seorang guru matematika di SMA Negeri 1 Sungai Ambawang, Edi Sukendri, justru memanfaatkan media sosial TikTok sebagai ruang kelas virtual.
Bukan sekadar mengunggah video, Edi menggunakan fitur live streaming untuk mengajar secara langsung. Melalui siaran tersebut, ia menjelaskan materi matematika sekaligus membuka ruang interaksi dengan para siswa.
Menurut Edi, TikTok dipilih karena platform tersebut sudah familiar bagi sebagian besar siswa. Fitur live juga memungkinkan proses belajar berlangsung dua arah, sehingga siswa tetap dapat menyimak materi dan mengajukan pertanyaan secara langsung.
Namun, mengajar melalui media sosial bukan tanpa tantangan. Siaran Edi dapat ditonton masyarakat luas, sehingga komentar negatif terkadang muncul selama pembelajaran berlangsung.
Meski demikian, hal itu tak menyurutkan semangatnya. Bagi Edi, yang terpenting adalah materi pelajaran tetap tersampaikan kepada siswa meski kondisi kabut asap membuat pembelajaran tatap muka harus dihentikan sementara.
Inovasi tersebut kemudian turut diikuti sejumlah guru lain di SMA Negeri 1 Sungai Ambawang.
Pemanfaatan media sosial menjadi salah satu cara guru menjaga pembelajaran tetap berjalan di tengah situasi darurat kabut asap. Di saat ruang kelas harus kosong, teknologi justru membuka ruang belajar baru yang lebih dekat dengan keseharian digital para siswa.







