坤甸讯——面对长期干旱及海水入侵导致卡江/卡布阿斯河(Sungai Kapuas)原水水质下降,坤甸市政府开始将古布务拉雅县(Kubu Raya)的Biong地区列为新的备用原水源候选地。

Biong 村位于万那/兰达克河(Sungai Landak)流水域,距离Penepat水库约22公里。坤甸市长埃迪Edi Rusdi Kamtono于9月22日下午亲自前往当地了解水源状况,坤甸Tirta Khatulistiwa地方供水公司实验室团队也同步采集水样进行检测。

初步检测结果显示,当地水样含盐量仅为每升11毫克。这一结果显示,Biong距离海水潮汐影响较远,水质淡化条件相对较好。

这是我们正在考察的其中一个替代方案,因为距离海水潮汐影响越远,水质理论上就会越淡。Edi说。

不过,Edi强调,是否能够成为正式的原水源,不能只看水质是否淡化,还必须综合评估河道宽度、深度、输水至水处理厂的距离,以及未来铺设输水管线的可行性和成本。

不能只看水是不是淡水。我们还必须计算交通和施工条件、距离水处理厂有多远,以及今后水管线要怎么铺设,他说。

目前,市政府也在研究Biong地区兰达克河的运行条件,其中一个方案是从Penepat水库方向铺设水管线,与Biong地区连接。

针对Biong地区,其中一个需要研究的可能方案,就是从Penepat水库方向连接水管线。”Edi表示。

不再依赖单一水源

Edi表示,寻找新的原水源是坤甸市政府的长期规划,目的是避免城市供水系统长期依赖单一水源。

此前经历的长期干旱以及海水入侵,也成为政府重新评估供水系统的重要依据。未来寻找的备用水源,需要具备与Penepat水源不同的风险特征,以提高整个供水系统的韧性。

“我们不希望只依赖一个水源。所有替代方案都必须经过技术测试和评估。他说。

Edi指出,Biong水源的研究并非仅仅为了应对水质恶化等紧急情况,而是坤甸市长期保障居民清洁用水供应的一部分。

“我们所做的一切努力,都是为了确保居民今天以及未来的清洁用水需求能够得到保障。”他总结道。

 

PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak mulai membidik kawasan Biong, Kubu Raya, sebagai salah satu calon sumber air baku alternatif di tengah ancaman intrusi air laut dan kemarau panjang yang menekan kualitas air Sungai Kapuas.

Biong yang berada di aliran Sungai Landak berjarak sekitar 22 kilometer dari Waduk Penepat. Lokasi ini ditinjau langsung Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, Selasa (22/9/2026) sore.

Tim Laboratorium Perumda Tirta Khatulistiwa turut mengambil sampel air untuk menguji kualitasnya.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan kadar garam di lokasi hanya 11 miligram per liter. Angka tersebut menjadi sinyal positif karena lokasi Biong dinilai lebih jauh dari pengaruh pasang air laut.

“Ini salah satu alternatif yang kita lihat karena semakin jauh dari pengaruh pasang air laut, kualitas air diharapkan semakin tawar,” kata Edi.

Namun, Edi menegaskan kualitas air tidak menjadi satu-satunya pertimbangan. Pemkot Pontianak masih harus menghitung aspek teknis dan biaya, mulai dari lebar serta kedalaman sungai, jarak menuju instalasi pengolahan air, hingga kebutuhan pembangunan jaringan perpipaan.

“Bukan hanya soal airnya tawar atau tidak. Kita harus hitung aksesnya, jaraknya ke instalasi pengolahan, sampai bagaimana nanti jaringan pipanya,” ujarnya.

Salah satu skema yang mulai dikaji adalah membangun sambungan pipa dari arah Waduk Penepat menuju kawasan Biong. Namun, karakter Sungai Landak dan kelayakan operasionalnya masih perlu diteliti lebih lanjut.

“Untuk Biong, salah satu kemungkinan yang perlu kita kaji adalah menyambungkan pipa dari arah Waduk Penepat,” jelasnya.

Tak Mau Bergantung pada Satu Sumber

Edi menyebut pencarian sumber air alternatif merupakan langkah jangka panjang agar Pontianak tidak kembali bergantung pada satu sumber air baku.

Pengalaman menghadapi kemarau panjang dan intrusi air laut menjadi evaluasi penting bagi Pemkot untuk membangun sistem penyediaan air yang memiliki sumber cadangan dengan risiko berbeda dari Waduk Penepat.

“Kita tidak ingin hanya mengandalkan satu sumber. Semua alternatif akan kita uji dan hitung secara teknis,” tegasnya.

Menurut Edi, kajian Biong bukan sekadar solusi saat kondisi darurat, tetapi bagian dari strategi menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat Pontianak dalam jangka panjang.

“Ikhtiar ini kita lakukan supaya kebutuhan air bersih masyarakat tetap terjaga, hari ini maupun ke depan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *