(坤甸讯)印尼国会协商机构(MPR RI)举办的西加里曼丹省“四大支柱”知识竞赛(LCC 4 Pilar)近日引发争议。一段来自坤甸国立第一高中(SMAN 1 Pontianak)参赛学生抗议评审结果的视频在社交媒体疯传。
视频中,参赛学生质疑评委判决,原因是他们的答案被判错误并扣分,而另一支队伍给出内容相近的答案却获得满分。
有关争议迅速引发网民讨论,大量留言涌入MPR RI官方社交媒体评论区,质疑比赛评分是否客观公正。
西加教育与文化局代理局长Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie于2026年5月11日星期一表示,当局已召见坤甸国立第一高中校方及辅导团队,就相关问题进行沟通。
“我们已经召见SMAN 1 Pontianak校长及辅导团队,讨论此事,”他说。
Faisal指出,评分争议可能与现场音响设备技术问题有关。据了解,朝向评委席的扬声器出现故障,导致参赛者回答内容未能被评委清楚听见。然而,在观众席及YouTube直播中,参赛者声音则被认为相当清晰。
“根据我获得的信息,面向评委席的音响出现问题,因此参赛者的回答没有被清楚听到,”他说。
尽管如此,Faisal强调,此事仍应通过赛事主办方正式机制处理,因为该活动属于MPR RI主办项目,而非西加省政府活动。
西加省秘书Harisson也对此事表达关注。他认为,这涉及学生的公平感受,评分不应只拘泥于答案字句是否完全一致。
“如果真正理解内容,只需听参赛者的回答,就能判断其核心内容是否正确,”他说。
Harisson提醒,以“四大支柱”为主题的竞赛,本应体现公平与体育精神,不应让参赛者感到遭受不公待遇。
另一方面,坤甸国立第一高中校友会主席Windy Prihastari则建议,未来比赛应引入实时回放系统,以避免数字时代类似争议再次发生。她同时赞赏参赛学生在比赛过程中勇于公开表达异议的态度。
Viral LCC 4 Pilar Kalbar, Jawaban Mirip Tapi Nilai Berbeda Tuai Sorotan
KUNDIANDAILY.COM, PONTIANAK — Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat menuai polemik setelah video protes peserta dari SMAN 1 Pontianak viral di media sosial. Dalam video tersebut, peserta mempertanyakan keputusan juri karena jawaban mereka dinilai salah dan dikurangi poin, sementara tim lain dengan jawaban serupa justru mendapat nilai penuh.
Perdebatan itu memicu kritik dari warganet hingga memenuhi kolom komentar media sosial MPR RI. Banyak yang mempertanyakan objektivitas penilaian dalam perlombaan tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, mengatakan pihaknya telah memanggil kepala sekolah dan tim pendamping SMAN 1 Pontianak untuk membahas persoalan tersebut.
“Kami sudah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak dan tim pendamping terkait persoalan ini,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Menurut Faisal, dugaan perbedaan penilaian bisa dipicu gangguan teknis speaker yang mengarah ke meja juri sehingga jawaban peserta tidak terdengar jelas. Padahal, suara peserta disebut terdengar normal di area penonton maupun siaran YouTube.
“Informasi yang saya terima, speaker yang mengarah ke juri mengalami gangguan sehingga jawaban peserta kurang terdengar jelas,” katanya.
Meski begitu, Faisal meminta persoalan tetap diselesaikan melalui mekanisme resmi panitia lomba karena kegiatan tersebut merupakan agenda MPR RI, bukan Pemprov Kalbar.
Sorotan juga datang dari Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson. Ia menilai persoalan itu menyangkut rasa keadilan bagi peserta didik dan meminta penilaian tidak hanya terpaku pada kesamaan redaksi jawaban.
“Kalau memahami materi, cukup dengar jawaban peserta, langsung bisa diketahui substansinya benar atau tidak,” tegasnya.
Harisson mengingatkan bahwa lomba bertema Empat Pilar MPR RI semestinya menjunjung tinggi nilai keadilan dan sportivitas. Ia meminta panitia tidak membiarkan peserta merasa dirugikan.
Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni SMAN 1 Pontianak, Windy Prihastari, mendorong adanya sistem pemutaran ulang jawaban secara real time untuk menghindari sengketa serupa di era digital. Ia juga mengapresiasi keberanian para peserta yang menyampaikan protes secara terbuka di tengah perlombaan.
