坤甸讯——儒家普渡祭祀传统自古以来便已存在。根据传统,每年农历七月初一至七月二十九日,(称中元节盂兰盛会)但西加坤甸就在农历7月15日为止)信众都会举行普渡祭祀活动,以追思和祭拜无亲属前往祭扫、无人奉祀的亡灵。
按照儒家信仰,普渡祭祀的意义在于祭祀无主孤魂,让这些没有亲属祭拜的亡灵也能得到慰藉与供奉。
传统上,祭祀所准备的供品原本并不是供人争抢,而是计划在祭祀结束后分发给贫困民众。
相传,由于当时前来领取供品的贫困民众人数众多,而准备的祭品有限,无法平均分配,国王便下令让贫困民众自行领取。
由于人数众多,现场一度难以控制,民众开始互相争抢供品。这种情况年复一年延续下来,逐渐形成了如今普渡祭祀中“抢供品”(施孤)的习俗。
不过,抢供品并不是普渡祭祀仪式中不可或缺的环节,而是随着历史发展逐渐形成的一种民间习俗,并代代传承至今。
另一方面,居民在自家门前举行祭祀后,供品通常会交由负责收集的工作人员(坤甸几十年来都有西加孔教华社总会统筹)统一收取,再运送至佯船(Wangkang)船上焚烧,作为祭祀仪式的一部分。
如今,普渡祭祀依然延续,成为儒家信众世代传承的传统文化与民俗活动,承载着追思先人、敬畏亡灵以及关怀社会弱势群体的文化意义。
PONTIANAK – Tradisi sembahyang arwah umum di kalangan umat Ru telah berlangsung sejak masa kerajaan dan dinasti. Ritual ini dilaksanakan pada bulan ketujuh penanggalan Khongzili, mulai hari pertama hingga hari ke-29.
Dalam kepercayaan umat Ru, sembahyang arwah umum ditujukan untuk menghormati dan mendoakan arwah yang tidak lagi memiliki sanak keluarga untuk berziarah ke makamnya.
Sesajian yang dipersembahkan dalam ritual tersebut pada awalnya bukan untuk diperebutkan. Berdasarkan tradisi yang berkembang sejak masa kerajaan, persembahan justru dibagikan kepada masyarakat kurang mampu.
Namun, jumlah warga miskin yang datang kala itu begitu banyak, sementara barang persembahyangan yang tersedia terbatas. Kondisi tersebut membuat pembagian tidak dapat dilakukan secara merata. Raja kemudian memerintahkan masyarakat untuk mengambil sendiri sesajian yang telah dipersembahkan.
Cara tersebut akhirnya menimbulkan kericuhan karena masyarakat saling berebut. Kebiasaan itu terus berlangsung dari tahun ke tahun hingga berkembang menjadi tradisi berebut sesajian yang masih dikenal hingga sekarang.
Meski demikian, berebut sesajian bukan bagian dari ritual wajib dalam sembahyang arwah umum. Tradisi tersebut lebih merupakan kebiasaan yang terbentuk dan diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, bagi warga yang melaksanakan sembahyang di depan rumah masing-masing, sesajian biasanya dikumpulkan oleh petugas untuk kemudian dibawa ke kapal Wangkang dan dibakar sebagai bagian dari rangkaian ritual.
Tradisi sembahyang arwah umum tersebut hingga kini tetap dilestarikan sebagai bagian dari ritual, budaya, dan tradisi umat Ru yang diwariskan dari generasi ke generasi.
