坤甸讯——如今,认识树木已不再只能通过课本学习。在坤甸第八国民初级中学(SMP Negeri 8 Pontianak),学生只需将手机镜头对准树木上的二维码(QR Code),便可了解植物的名称、种类以及来源等信息。
这项创新举措是**Digulis Ceria(Digital Innovation for Green Learning and Sustainable School)**项目的重要组成部分,并于2026年6月15日(星期一)正式启动。该项目结合数字科技与绿化行动,旨在从校园阶段开始培养学生关爱环境的文化意识。
坤甸第八国民初级中学校长 Suparji 表示,这一理念旨在让学习不再局限于课堂,而是能够直接与自然环境相结合。
“孩子们不仅被鼓励种植树木,也通过数字科技认识和学习每一种植物。因此,学习过程变得更加有趣且富有互动性。”他说。
通过安装在每棵树上的二维码,学生及访客都可以获取有关植物种类及其原产地的信息。学校还计划收集来自印度尼西亚各地区的特有植物,作为学习资源以及环境保护工作的一部分。
坤甸市环境局代理局长 Muchammad Yamin 认为,这项举措能够成为城市地区绿色校园建设的典范。他表示,绿化工作并不完全取决于土地面积大小,而更取决于是否具备从身边环境开始行动的决心与责任感。
“这里种植了来自不同地区的特有树种,这是非常积极的一步。希望这项做法能够成为其他学校的灵感,共同推动建设更加绿色的坤甸。”他说。
除了让学生认识生物多样性之外,Digulis Ceria项目也希望培养学生关爱环境的品格,同时让科技真正融入日常学习过程之中。
Cara Unik SMPN 8 Pontianak Ajak Siswa Cinta Lingkungan
KUNDIANDAILY.COM, PONTIANAK – Belajar mengenal pohon kini tak lagi hanya lewat buku pelajaran. Di SMP Negeri 8 Pontianak, siswa cukup mengarahkan kamera ponsel ke sebuah QR Code untuk mengetahui nama, jenis, hingga asal-usul tanaman yang ada di lingkungan sekolah.
Inovasi itu menjadi bagian dari Program Digulis Ceria (Digital Innovation for Green Learning and Sustainable School) yang resmi diluncurkan, Senin (15/6/2026). Program ini menggabungkan teknologi digital dengan gerakan penghijauan sebagai upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak usia sekolah.
Kepala SMPN 8 Pontianak, Suparji, mengatakan konsep tersebut dirancang agar pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga langsung bersentuhan dengan alam.
“Anak-anak tidak hanya diajak menanam pohon, tetapi juga mengenal dan mempelajari setiap tanaman melalui teknologi digital. Jadi proses belajarnya lebih menarik dan interaktif,” ujarnya.
Melalui QR Code yang dipasang di setiap pohon, siswa dan pengunjung dapat mengakses informasi mengenai jenis tanaman hingga daerah asalnya. Sekolah juga menargetkan koleksi tanaman endemik dari berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari pembelajaran sekaligus pelestarian lingkungan.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Muchammad Yamin, menilai langkah tersebut bisa menjadi contoh pengembangan sekolah hijau di tengah keterbatasan ruang terbuka di perkotaan.
Menurutnya, penghijauan tidak selalu bergantung pada luas lahan, melainkan pada komitmen dan kepedulian untuk memulai dari lingkungan terdekat.
“Pohon-pohon endemik dari berbagai daerah yang ditanam di sini menjadi langkah yang sangat positif. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk ikut mewujudkan Pontianak yang lebih hijau,” katanya.
Selain mengenalkan keanekaragaman hayati, Program Digulis Ceria juga diharapkan membentuk karakter siswa yang peduli terhadap lingkungan sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses belajar sehari-hari.
