古务拉雅讯——夜幕降临,古务拉雅县双溪安邦区双溪玛拉雅村的森林和土地火灾(Karhutla)威胁仍未消退。黑暗中,部分火点依然可见,浓烟笼罩着周边地区。
现场,消防和救援人员仍在与大火奋战。高温、浓烟以及复杂地形,成为他们阻止火势蔓延所必须面对的挑战。
我国副总统吉布兰·拉卡布明·拉卡于9月10日(星期四)晚间亲赴现场视察。陪同人员包括西加里曼丹省省长黄努山/里亚·诺尔桑、林业部长拉惹·朱莉·安东尼以及地方协调领导机构(Forkopimda)成员。
在前往火灾现场之前,代表团首先在苏巴迪奥空军基地指挥中心,对地面和空中灭火行动的最新报告进行评估。
黄努山表示,仅依靠报告并不足够。政府必须亲自了解现场情况,确保所采取的措施符合实际需要。
他说:此次视察十分重要,可以将纸面上的数据与现场实际情况进行比对,从而让我们实施的灭火和缓解措施更加精准、协调和高效。
然而,在与大火赛跑的同时,另一个问题同样不容忽视——人员安全。
一线消防人员冒着高温和浓烟奋战,而附近居民则必须面对烟霾可能造成的健康风险以及日常生活受到的影响。
因此,黄省长强调,森林和土地火灾的处理不能在火势被扑灭后就结束。
处理工作不能仅仅停留在扑灭大火。保护受到烟霾影响的居民,是必须履行的责任。黄努山强调。
他表示,医疗服务、儿童教育以及受影响居民的日常生活物资供应,都必须继续得到保障。
这一立场再次强调,抗击森林和土地火灾不仅仅是扑灭火焰,更重要的是确保火灾周边民众的安全,并保障他们能够继续获得基本公共服务。
副总统吉布兰、黄努山、拉惹·朱莉·安东尼以及地方协调领导机构成员亲赴现场,也进一步加强了地面、空中灭火行动以及现场监测之间的协调。
在烟霾依然笼罩古务拉雅部分地区之际,一个明确的信息也随之传出:大火必须扑灭,但消防人员和居民的安全绝不能成为代价。
因为衡量森林和土地火灾处置成效的标准,不仅是火势被扑灭得有多快,更在于灾害发生期间,政府能否最大限度地保护人民安全第一。koreksi selesai
KUBU RAYA – Malam tak membuat ancaman karhutla di Desa Sungai Malaya, Kecamatan Sungai Ambawang, mereda. Di tengah gelap, titik api masih terlihat, sementara asap menyelimuti kawasan.
Di lokasi itu, para personel pemadam terus berjibaku. Panas, asap dan medan sulit menjadi bagian dari perjuangan mereka untuk menahan api agar tidak meluas.
Kondisi tersebut ditinjau langsung Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, Kamis (10/9/2026) malam. Gibran didampingi Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan jajaran Forkopimda.
Sebelum turun ke lokasi, rombongan mengevaluasi laporan operasi pemadaman darat dan udara di Posko Lanud Supadio.
Bagi Norsan, laporan saja tidak cukup. Pemerintah perlu melihat langsung kondisi di lapangan agar keputusan yang diambil sesuai dengan situasi sebenarnya.
“Peninjauan ini penting untuk mencocokkan data di atas kertas dengan realita di lapangan, sehingga strategi pemadaman dan mitigasi yang kita jalankan bisa lebih terukur, terpadu, dan efisien,” ujar Norsan.
Namun, di balik upaya mengejar api, ada persoalan yang tak kalah penting: keselamatan manusia.
Personel berada di garis depan menghadapi kobaran dan asap. Sementara warga di sekitar lokasi harus menghadapi dampak kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, Norsan menegaskan penanganan karhutla tidak boleh berhenti ketika api padam.
«“Penanganan tidak boleh hanya berhenti pada padamnya api. Perlindungan terhadap warga yang terdampak kabut asap adalah keharusan,” tegasnya.»
Menurutnya, layanan kesehatan, pendidikan anak-anak hingga distribusi kebutuhan pokok masyarakat terdampak harus tetap berjalan.
Pesan itu menjadi penegasan bahwa perang melawan karhutla bukan sekadar soal menaklukkan api. Pemerintah juga harus memastikan mereka yang berada di sekitar titik kebakaran tetap aman dan mendapatkan layanan dasar.
Kehadiran Wapres Gibran, Norsan, Raja Juli Antoni dan Forkopimda di tengah situasi tersebut sekaligus memperkuat koordinasi penanganan karhutla melalui operasi darat, udara dan pemantauan langsung.
Di tengah asap yang masih menggantung di Kubu Raya, satu hal menjadi penekanan: api harus padam, tetapi keselamatan personel dan warga tidak boleh menjadi taruhan.
Sebab ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa baik manusia yang berada di sekitarnya terlindungi.
