雅加达讯——Erlina正式就任Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia(ASPEKSINDO)2025至2030年任期总主席,引发各界对印尼沿海地区发展方向的新关注,尤其是在强化渔民经济与推进渔业下游产业发展方面。
此次就职典礼在Jakarta举行,Ria Norsan亦出席活动。他认为,沿海地区地方政府组织在推动沿海区域成为新的经济增长中心方面具有重要作用,包括在西加里曼丹这样拥有较长海岸线的地区,尤其是Mempawah一带。
Ria Norsan 表示,现代渔村建设与渔业下游产业发展是需要加快推进的两项战略举措,以避免渔获仅停留在原材料销售阶段。
“我们希望渔业产品能够加工成为具有附加值并可出口的产品,”Ria Norsan 表示。
同场出席活动的Sakti Wahyu Trenggono指出,印尼海洋渔业领域仍蕴藏巨大潜力,尚未得到充分利用。例如,全国海藻年产量约达1000万吨,但目前仍以原材料出口为主,经济价值尚未得到最大化体现。
“我们的挑战是把这些资源转变为产业体系,我们必须从单纯生产转向附加值加工,”Sakti Wahyu Trenggono 表示。
他举例指出,Norway能够通过渔业产业创造数百亿美元规模的经济价值,而印尼渔业出口仍低于Thailand和Vietnam,两国渔业出口额均已超过100亿美元。
“目前印尼渔业出口仍以海洋捕捞产品为主,养殖业方面则以虾类为主要支柱产品。虾类出口额接近20亿美元,并吸纳了数以百万计从事养殖与加工行业的劳动力,”Sakti Wahyu Trenggono 表示。
此外,政府也持续推动提升渔获处理技术,包括采用以海水为基础制成的浆冰(slurry ice)技术,以确保渔产品在出口运输过程中保持新鲜品质。
现代渔村计划预计可推动全国渔业产量达到每年280万至300万吨,相关沿海地区将根据各自优势发展不同特色水产资源。
作为ASPEKSINDO总主席,Erlina 强调沿海地区发展模式必须转型,不能仅依赖初级生产活动,各地区需要加强基于本地资源优势的加工产业建设,使经济收益更多留在当地社区。
“鱼类不能只停留在捕捞阶段,海藻也不能只停留在采收阶段。我们必须通过发展生物技术加工产业实现产业升级,让附加值真正惠及地方社会与渔民,”Erlina 表示。
她同时指出,沿海地区还蕴藏新的经济机遇,例如蓝碳产业发展,以及红树林与珊瑚礁生态保护,这些领域不仅契合全球环境议题,也具备为地方创造附加经济价值的潜力。
“如果说陆地是国家的前院,那么海洋就是必须赢得的未来,”Erlina 表示。
Erlina Pimpin ASPEKSINDO, Hilirisasi Perikanan dan Kampung Nelayan Jadi Sorotan
JAKARTA — Pelantikan Dr. Hj. Erlina, S.H., M.H. sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO) periode 2025–2030 membawa perhatian baru pada arah pembangunan wilayah pesisir di Indonesia, terutama terkait penguatan ekonomi nelayan dan hilirisasi sektor perikanan.
Pelantikan yang digelar di Jakarta itu turut dihadiri Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H. Ia menilai organisasi kepala daerah pesisir memiliki posisi penting dalam memperkuat peran wilayah pantai sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, termasuk di Kalbar yang memiliki garis pantai cukup panjang, khususnya di wilayah Mempawah.
Menurut Norsan, pengembangan Kampung Nelayan Modern dan hilirisasi perikanan menjadi dua langkah strategis yang perlu dipercepat agar hasil tangkapan tidak lagi berhenti pada penjualan bahan mentah.
“Kita ingin hasil perikanan diolah menjadi produk bernilai tambah dan siap ekspor,” ujarnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam kesempatan yang sama menyoroti potensi besar sektor kelautan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Produksi rumput laut nasional yang mencapai sekitar 10 juta ton per tahun, misalnya, masih didominasi ekspor bahan baku sehingga nilai ekonominya belum maksimal.
“Tantangan kita adalah mengubah ini menjadi industri. Kita harus beralih dari sekadar produksi ke pengolahan bernilai tambah,” ujarnya.
Ia mencontohkan negara seperti Norwegia yang mampu memperoleh valuasi puluhan miliar dolar dari komoditas perikanan. Sementara itu, ekspor perikanan Indonesia masih berada di bawah Thailand dan Vietnam yang telah melampaui 10 miliar dolar AS.
“Saat ini, ekspor perikanan Indonesia masih didominasi oleh hasil tangkapan laut, dengan pengecualian pada komoditas udang yang menjadi andalan budidaya. Sektor udang sendiri mencatatkan nilai ekspor hampir 2 miliar USD dan menyerap jutaan tenaga kerja di sektor budidaya dan pengolahan,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan teknologi penanganan hasil tangkapan, termasuk penggunaan slurry ice berbahan air laut untuk menjaga kualitas ikan agar tetap segar hingga ke pasar ekspor.
Program Kampung Nelayan Modern sendiri ditargetkan mampu mendorong produksi ikan nasional hingga 2,8–3 juta ton per tahun dari berbagai wilayah pesisir yang memiliki komoditas unggulan berbeda.
Sebagai Ketua Umum ASPEKSINDO, Erlina menekankan pentingnya perubahan pendekatan pembangunan wilayah pesisir agar tidak hanya berfokus pada aktivitas produksi primer. Menurutnya, daerah perlu memperkuat industri pengolahan berbasis potensi lokal agar manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan masyarakat setempat.
“Ikan tidak cukup hanya ditangkap, rumput laut tidak cukup hanya dipanen. Kita harus naik kelas dengan membangun industri pengolahan berbasis bioteknologi di daerah agar nilai tambah tetap dinikmati oleh masyarakat lokal dan nelayan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti peluang ekonomi baru dari sektor pesisir, seperti pengembangan blue carbon serta perlindungan ekosistem mangrove dan terumbu karang yang dinilai semakin relevan dengan isu lingkungan global sekaligus berpotensi memberi nilai ekonomi tambahan bagi daerah.
“Jika darat adalah halaman depan negeri kita, maka laut adalah masa depan yang harus kita menangkan,” pungkasnya.
