坤甸讯 —— Majelis Adat Budaya Tionghoa Indonesia 总主席 Suyanto Tanjung 指出,西加里曼丹出发的国内航班票价仍然偏高,对社会公众及企业经营活动造成一定负担。
他表示,包括 Pontianak—Ketapang、Pontianak—Sintang 以及 Pontianak—Jakarta 等航线票价仍相对较高,甚至在部分情况下高于飞往 Kuching 或 Kuala Lumpur 等短程国际航线的机票价格。
他认为,这一情况对公众出行便利产生影响,并可能在一定程度上制约地区经济发展。因此,他呼吁政府采取具体措施稳定机票价格。
Suyanto 同时对政府在航班票价调控方面的作用提出关注。他指出,部分国家及国内航空公司,如 Garuda Indonesia、Citilink 以及 Pelita Air,均属于国家或本土航空体系范围。
“如果连国有航空公司都无法对票价进行有效调控,那么相关政策确实有必要进行评估,”Suyanto Tanjung 表示。
他希望政府尽快采取具体措施,使机票价格恢复稳定并更加亲民,让社会各阶层都能更便捷地享受航空交通服务。
MABT Indonesia Soroti Mahalnya Tiket Pesawat Domestik dari Kalbar
PONTIANAK – Ketua Umum Majelis Adat Budaya Tionghoa Indonesia (MABT) Indonesia, Suyanto Tanjung, menyoroti tingginya harga tiket pesawat domestik dari Kalimantan Barat yang dinilai memberatkan masyarakat dan pelaku usaha.
Menurutnya, tarif sejumlah rute seperti Pontianak–Ketapang, Pontianak–Sintang, hingga Pontianak–Jakarta masih relatif mahal, bahkan kerap lebih tinggi dibanding penerbangan jarak dekat ke Kuching atau Kuala Lumpur.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak pada mobilitas masyarakat dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, pemerintah diminta mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga tiket.
Suyanto juga mempertanyakan peran pemerintah dalam mengendalikan tarif penerbangan, mengingat sejumlah maskapai nasional seperti Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air berada dalam lingkup perusahaan negara maupun nasional.
“Kalau maskapai milik negara saja tidak bisa mengontrol harga, tentu perlu ada evaluasi,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga tiket kembali stabil dan terjangkau sehingga akses transportasi udara dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
